Dua tahun lalu gue nemu surat di meja tamu rumah bibi gue di Padang. Isinya sederhana: tiket bus ke Bukittinggi, plus catatan tangan, "Coba dulu tiga hari. Kalau betah, tinggal lebih lama." Ternyata itu ide temannya, Pak Har, pensiunan guru yang sudah setahun mondar-mandir ke kota itu. Bibi awalnya cuma ikut-ikutan. Sekarang? Dia punya warung kopi langganan sendiri di sana.
Cerita Pak Har dan bibi gue itu bukan hal aneh. Bukittinggi memang punya daya tarik yang susah dijelaskan pakai brosur wisata. Kotanya kecil, udaranya dingin, dan ritmenya lambat. Buat pensiunan yang sudah bosan macet dan antre, ini semacam pelarian yang masuk akal.
Kenapa Banyak Pensiunan Jatuh Cinta pada Kota Ini
Gue sempat ikut bibi tinggal seminggu di sana. Bukan buat liburan mewah, cuma ikut ngopi dan jalan pagi. Dan jujur, gue ngerti kenapa orang-orang sepuh betah.
Baca juga: Dompet Aman Sampai Pulang, Ini Rahasia Liburan Hemat Mahasiswa Perantau
Pertama soal udara. Pagi di Bukittinggi itu dinginnya pas, sekitar 18 derajat. Jalan kaki keliling kota rasanya ringan, napas nggak ngos-ngosan kayak di Jakarta. Banyak pensiunan yang justru jadi lebih rajin jalan kaki di sini karena medannya nggak terlalu ekstrem — walau ya, beberapa tanjakan tetap bikin ngos-ngosan kalau nggak biasa.
Kedua, semuanya dekat. Jam Gadang ke Pasar Atas cuma beberapa menit jalan kaki. Mau ke Ngarai Sianok? Naik angkot sebentar. Buat orang yang sudah nggak mau ribet nyetir jauh, ini berkah. Nggak perlu sewa mobil, nggak perlu takut nyasar.
Ketiga, dan ini yang paling sering diceritakan Pak Har ke gue: biaya hidupnya masuk akal. Semangkuk mie rebus di warung dekat pasar masih lima ribuan. Kopi di warung langganan bibi sepuluh ribu, bisa duduk sejam lebih tanpa diusir. Buat pensiunan yang uangnya pas-pasan tapi pengin tetap jalan-jalan, ini penting banget.
"Di sini saya nggak perlu mikir mau makan apa yang mahal. Yang penting kenyang, hangat, lanjut jalan lagi," kata Pak Har suatu sore, sambil menyeruput teh manis.
Rute Santai buat yang Nggak Mau Terburu-buru
Kalau kamu atau orang tua kamu berencana ke sini, jangan ikutin itinerary tur yang padat. Justru enaknya malah santai. Ini yang gue pelajari dari bibi.
Pagi: Jam Gadang dan Pasar Atas
Datang sekitar jam tujuh pagi. Jam Gadang masih sepi, udara dingin, dan pedagang baru buka lapak. Duduk di salah satu bangku, pesan teh hangat, nikmatin suasana sebelum ramai. Setelah itu masuk ke Pasar Atas, beli kain atau keripik sanjai buat oleh-oleh. Jangan lupa tawar, tapi tetap sopan. Pedagang di sini ramah kalau kita ramah.
Siang: Ngarai Sianok dan Lobang Jepang
Ngarai Sianok paling enak dilihat sore atau pagi, tapi siang juga nggak apa-apa kalau cuma duduk di taman pinggirnya. Pemandangan lembahnya luas, hijau, dan bikin tenang. Kalau masih kuat, Lobang Jepang ada di dekat situ. Tapi terus terang, buat pensiunan yang agak sesak napas, lorong bawah tanah itu bisa melelahkan. Nggak wajib masuk.
Gue sempat masuk sekali, dan keluar dengan keringat dingin. Bukan karena seram, tapi karena jalannya panjang dan lembap. Kalau kamu punya masalah lutut atau jantung, cukup lihat dari luar saja.
Sore: Ngopi dan Ngobrol di Warung
Ini bagian yang paling disukai bibi. Sekitar jam empat, dia sudah duduk di warung kopi langganannya, ngobrol sama pemilik warung dan beberapa pensiunan lain yang juga lama tinggal di sana. Nggak ada agenda, cuma cerita. Kadang soal cucu, kadang soal harga cabai. Kedengarannya sepele, tapi justru inilah yang bikin orang betah.
Hal Praktis yang Perlu Disiapkan
Biar nggak repot, ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan sebelum berangkat.
- Bawa jaket tipis. Siang bisa panas, tapi pagi dan malam dinginnya lumayan. Jangan cuma bawa kaus.
- Pilih penginapan dekat pusat kota. Homestay di sekitar Jam Gadang banyak yang harganya di bawah 200 ribu per malam. Lebih murah dan lebih dekat ke mana-mana.
- Bawa obat pribadi. Apotek ada, tapi kalau kamu punya obat rutin, jangan sampai ketinggalan. Lebih tenang.
- Jangan jadwalin terlalu padat. Satu atau dua tempat per hari sudah cukup. Sisanya buat istirahat dan ngobrol.
- Bawa uang tunai secukupnya. Banyak warung dan pedagang kecil belum terima QRIS. Jangan sampai kelaparan gara-gara sinyal atau saldo.
Soal transportasi, angkot masih hidup dan murah. Tapi kalau bawa orang tua yang sudah agak susah jalan, sewa mobil lepas kunci atau pakai ojek online lebih praktis. Tarifnya masih wajar, kok.
Yang Perlu Diwaspadai
Bukan berarti semuanya mulus. Bukittinggi tetap kota dengan tanjakan dan turunan. Beberapa trotoar sempit, dan saat hujan jalan jadi licin. Buat pensiunan yang pakai tongkat atau kursi roda, perlu cek dulu akses ke tempat yang mau dikunjungi. Nggak semua spot ramah difabel.
Selain itu, jam ramai wisatawan biasanya akhir pekan dan libur sekolah. Kalau bisa, datang di hari kerja. Suasananya jauh lebih tenang, dan harga penginapan juga lebih bersahabat.
Gue sendiri nggak menyangka kota sekecil ini bisa bikin orang betah berlama-lama. Tapi setelah lihat bibi dan Pak Har, gue ngerti. Kadang yang dicari pensiunan bukan tempat yang megah, tapi tempat yang bikin hati tenang dan dompet nggak menjerit. Bukittinggi, setidaknya buat mereka, sudah membuktikan itu.
Kalau kamu punya orang tua atau kerabat yang baru pensiun dan bingung mau ke mana, coba usulkan kota ini. Nggak perlu paket tur mahal. Cukup tiket bus, jaket, dan kemauan buat jalan pelan-pelan.